Home > Belajar, Jalan-Jalan, Kelontong > Asal-usul/Sejarah Wayang Potehi

Asal-usul/Sejarah Wayang Potehi

Masih dalam suasana Tahun Baru Imlek nih.
Saya ucapkan Gong Xi Fa Cai
Semoga kesehatan dan kemakmuran melimpahi kita semua.
Saya lagi ngerayain Tahun Baru Imlek bersama Jet Li niihh… ;-p

Langsung saja, ini tulisan lama sebenarnya, tapi baru sempat saya postingkan. Kali ini mengenai asal-usil wayang potehi. Apa dan bagaimana wayang potehi, selamat menyimak.

 

Kalau Sunda punya Si Cepot, maka orang Tionghoa memiliki Wayang Potehi. Kabarnya wayang Potehi tercipta oleh lima orang terpidana mati yang menghibur diri menjelang eksekusi mereka. Bukan saja sebagai media hiburan, wayang Potehi juga unik dan memiliki nilai seni tinggi. Wayang Potehi di Indonesia juga masih terus berkembang hingga kini, khususnya semenjak kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (alm).

Asal Usul Wayang Potehi
Lima terpidana mati asal Tiongkok disebut-sebut sebagai orang-orang yang memainkan Wayang Potehi pertama kalinya. Ceritanya bermula saat kelima terpidana mati ini sedang meratapi nasib mereka yang divonis hukuman mati. setelah beberapa saat mereka bersedih, lantas mereka berpikir “untuk apa kita bersedih? toh kita akan mati, lebih baik kita bersenang-senang dan menghibur diri sebelum kita dieksekusi.”

Salah satu dari mereka mendapat ide cemerlang untuk membuat wayang yang terbuat dari kayu (Hie), kain (Poo) serta kantung (Tay). Setelah wayang itu tercipta, mereka mengumpulkan ‘alat musik’ yang berasal dari peralatan dapur seperti piring, panci dan wajan yang berfungsi sebagai tetabuhan pengiring wayang.

Setelah semuanya siap, mereka-pun memainkan wayang tersebut dengan penuh penjiwaan. Tak disangka, Kaisar mendengar permainan mereka dan mencari asal suara-suara tersebut. Setelah Kaisar yang terpesona dengan permainan tersebut menemukan mereka, hukuman mereka-pun akhirnya dibebaskan. Mulai dari saat itulah Wayang Potehi berkembang hingga sekarang.

foto:akiasik.blogspot.com


Wayang Potehi di Tanah Air
Rupanya, kita harus berterimakasih kepada almarhum Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid karena perkembangan dan keberadan etnis serta budaya Tionghoa di tanah air dapat bernapas lega pada masa pemerintahannya.

Kesenian Tionghoa seperti Barongsai, dan Wayang Potehi mendapat udara segar, komunitas Wayang Golek versi Tionghoa ini juga berkembang dengan pesat. Masyarakat Jawa Timur ternyata masih menaruh perhatian yang cukup besar pada Wayang Potehi. Selain itu, ada komunitas di daerah lain seperti di Jakarta, Semarang dan Sumatera.

Wayang Potehi juga merupakan salah satu bagian dari ritual pemujaan pada dewa. Pementasan ini dilakukan dengan tujuan agar proses ritual pemujaan menjadi lebih sakral.

Dalang Wayang Potehi
Seperti halnya pada wayang lainnya, Wayang Potehi juga memerlukan dalang. Mereka memainkan wayang yang memiliki ciri khas seperti pada negara asalnya. Pakaian tradisional, hiasan, dandanan dan wajah yang disesuaikan menyerupai kebanyakan orang Cina.

Bahasa yang digunakan juga harus ke-Cina-cinaan, maksudnya walaupun menggunakan bahasa Indonesia tapi sang dalang haris memainkan alur cerita Wayang potehi dengan dialeg Tionghoa.

foto:ahasim.blogspot.com

Biasanya dalang Wayang Potehi dibantu dengan beberapa orang asisten, dan beberapa pemusik (Lo Tay) yang biasanya berjumlah empat orang. Asisten dalang sangat dibutuhkan, apalagi bila ada skenario yang menampilkan empat karakter sekaligus.

Alur pementasan Wayang Potehi tidak serumit Wayang Kulit dan Wayang Golek. Sebagai pembukaan, Lo Tay menyuguhkan permainan apik mereka selama kurang lebih setengah jam sebelum masuk ke alur cerita. Biasanya Lo Tay memainkan lagu-lagu tradisional Cina, tapi seiring perkembangan zaman, mereka juga sering memainkan lagu Cina modern.

Sebelum masuk ke babak cerita, sang dalang akan melakukan Kwan, yaitu ritual khas Cina. Ritual Kwan menggambarkan adegan para dewa yang sedang bersembahyang di Klenteng. Setelah ritual selesai, dalang akan melanjutkan dengan cerita utama.

Pada akhir pertunjukkan, dalang Potehi akan mengeluarkan dua boneka laki-laki dan perempuan berbusana merah, untuk melambangkan kegembiraan dan penghormatan terhadap dewa.

Pementasan Potehi
Tema cerita Wayang Potehi biasanya dipengaruhi oleh tempat pementasan. Bila wayang dipentaskan di Klenteng, biasanya mengambil tema cerita asli Tiongkok, seperti Legenda Dinasti Tong, Dinasti Song, atau Dinasti Ming. Tetapi bila Wayang Potehi dipentaskan di hadapan penonton atau di luar Klenteng untuk acara hajatan atau acara lainnya, biasanya mengambil cerita populer, seperti Kera Sakti (Sun Go Kong), Sam Pek Eng Tay, Si Jin Kui, Pendekar Gunung Liang Siang.

Salah satu tokoh unik dalam Wayang Potehi adalah tokoh Kwan Kong. Dewa Perang ini memiliki asesoris senjata berupa golok. Tokoh yang satu ini memiliki keunikan karena daya mistis tersendiri. Ada cerita yang mengatakan bahwa tangan si pengrajin selalu terluka saat membuat tokoh ini. Untuk itu, jika akan selamat dalam pembuatan tokoh Kwan Kong maka si pengrajin harus melakukan ritual khusus terlebih dahulu.

Pementasan Wayang Potehi biasanya dilakukan secara serial. Karena jika memainkan cerita secara keseluruhan tidak cukup dalam waktu sehari, bahkan ada cerita yang memerlukan waktu pementasan selama tiga bulan untuk menamatkannya.

Pementasan Potehi biasanya sering digelar pada bulan ketiga (Sagwee) hingga bulan sepuluh. Hal tersebut disebabkan karena pada bulan-bulan tersebut banyak Klenteng yang merayakan ulang tahun. Biasanya, pengurus Klenteng lebih dahulu mendaftar jumlah umat yang ingin menanggap Wayang Potehi untuk selamatan, kemudian pihak pementas akan bermain sesuai jumlah pendaftar tersebut.

Satu lakon Wayang Potehi biasanya dihabiskan dalam waktu tiga hingga empat hari. Untuk sekali pementasan biasanya pementas Wayang Potehi memasang tarif sekitar 6 – 8 juta rupiah, namun tarif tersebut bervariasi, tergantung dari kesepakatan antara si pemilik acara dengan pemimpin rombongan Wayang Potehi.(ez)yang-ini.blogspot.com

Categories: Belajar, Jalan-Jalan, Kelontong
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: