Home > Jalan-Jalan, Kelontong > Harno Khalibex: Si Anti Stress?

Harno Khalibex: Si Anti Stress?


“kowe nduwe pacar ra No?”
“yo,” jawabnya singkat sambil garuk-garuk kaki.
“jenenge sapa?”
“Misdi…”
Waw, benarkah Harno yang mengalami keterbelakangan mental ini sedang jatuh cinta?

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke Semarang. Saya mampir ke sebuah angkringan di daerah Banyumanik. Mungkin buat teman-teman yang berasal dari Banyumanik sudah tahu sego kucing Khalibex yang tepatnya di daerah Jati ini.

Di angkringan ini, atau ‘sego kucing’ kalau orang Semarang menyebutnya, ada seorang pegawai bernama Harno. Tugasnya adalah membantu mencuci gelas, memecahkan es batu dan merapikan warung. Meskipun Harno mengalami (maaf) keterbelakangan mental, tapi dia tetap bekerja dengan giat setiap harinya. Wajahnya tidak pernah berubah semenjak saya bertemu beberapa tahun yang lalu. Rambutnya cepak, tubuh gempal, kulit sawo matang dan badannya tidak terlalu tinggi.

Biasanya… kalau saya sedang nongkrong di tempat ini rame-rame, teman-teman saya acapkali menggoda Harno dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh-aneh. Tentu saja jawabannyapun aneh dan seringkali tidak nyambung dan lucu.

Pernah suatu kali dia pipis menghadap jalan sambil menggoyang-goyangkan pinggul. Tingkahnya memang menggelikan, dia juga sering berjoget kalau ada musik yang dimainkan. Tapi kalau si boss marah, Harno terlihat sedih juga meskipun wajahnya tetap polos seperti layaknya anak-anak.

Saya mengambil posisi bersila di tikar yang digelar di emper toko, saya duduk sekitar dua meter dari Harno. Daripada berdiam diri, akhirnya saya mengajaknya ngobrol. Sebenarnya sudah lama saya ingin berbincang-bincang dengan dia, tapi nampaknya baru kali ini keturutan. Inilah perbincangan saya dengannya yang bernama asli Suharno ini.

“No, omahmu nang ndi No?” saya membuka percakapan (No, rumahmu dimana?)
“kono, cedhake pos kamling,” jawabnya tanpa memandang saya (sana, deket pos kamling)
“pos kamling ndi tha?” kali ini dia menoleh ke saya (po kamling mana sih?)
“pojokan, Banyumanik ban press,” jawabnya sambil mengelus-elus telapak kaki (pojokan, Banyumanik ban press)
“Ooh, lha trus nang omah ana sapa wae?” (o, lha truz di rumah ada siapa aja?)
“ana bune, mas Bambang, tapi lek Ti yo ono,” sesaat dia diam, lalu menjawab dengan lugas (ada ibu, mas Bambang, tapi om Ti juga ada)
“lha ibumu kerjane apa?” (ibu kerja apa?)
“Hnngh? Kerjane?” (kerjanya?)
“iya, kerjane apa?” (iya, kerja apa?)
“kerjane nang kulkas,” jawabnya dengan mantap (kerjanya di kulkas)
“Nang kulkas piye tha?” tentu saja saya heran dibuatnya, masak kerja di kulkas (di kulkas gimana sih?)
“yo nang kulkas, dodolan,” imbuhnya polos (ya di kulkas, jualan)
“owalah, dodolan tha? Lha dodolan nang ndi?” tanya saya (owalah, jualan? Jualan dimana?)
“pasar,” katanya singkat (pasar)
“nang pasar dodolan es ngono po?” (di pasar jualan es gitu?)
“he’eh dodolan es,” (iya jualan es)

Sesaat kami diam, saya sebenarnya sedang berpikir mau bertanya apa lagi. Saat itu pula, saya langsung membuka tas saya dan mengambil buku catatan beserta pulpen. Saya langsung mencatat wawancara tadi, untuk postingan saya.

“lha kowe nek balik omah jam pira?” akhirnya saya mulai bertanya lagi (kamu kalau pulang jam berapa?)
“durung o,” (belum kok)
“iyaa, tapi jam pira?” yah, kok gak nyambung. Tapi dia menunjukkan sebuah jam tangan dari dalam tas plastik bening (iya tapi jam berapa?)

Obrolan kami terpaksa terhenti karena dia mendapat tugas dari si boss. Beberapa menit kemudian selesailah tugasnya dan kembali lagi menemani saya.

“meh golek THR,” ujarnya tiba-tiba saat saya menyeruput kopi hitam saya (mau cari THR)
“THR? Lha wis dikei rung?” (THR? Sudah dikasih belum?)
“durung,” jawabnya singkat (belum)
“THR kuwi apa tha?” Tanya saya (THR itu apa sih?)
“yo sirup, gula, minyak,” jelasnya sambil terus menatap jalan di depan kami (ya sirup, gula, minyak)
“lha dikeine kapan?” (kapan dikasih?)
“mboh,” (tidak tahu)
“nek bakdo, omahmu rame ra?” (kalau leberan, rumah ramai nggak?)
“ora kok, sepi,” (nggak, sepi kok)

“umurmu pira No?” Tanya saya penasaran (umurmu berapa?)
“pitung ewu,” jawabnya (tujuh ribu)
“lho, anu, ulang taunmu kapan?” saya mencoba bertanya lagi (anu, ulang tahunmu kapan?)
“400,” (400)
“aduuh,” saya nyerah deh

Sekali lagi dia mendapat panggilan tugas dari juragan, diapun melakukannya dengan segera. Setelah itu dia kembali lagi ke tempat saya nongkrong.

“Nek balik nyambut gawe kowe dikei duit gak No?” Tanya saya (kalau pulang kerja dikasih uang nggak No?)
“rong ewu,” jawabnya singkat (dua ribu)
“masak rong ewu? Sepuluh ewu yae,” (masak dua ribu? Sepuluh ribu kali?)
“ora, telung ewu kok,” katanya sambil meninjukkan tiga jari (nggak, tiga ribu kok)

“lha kuwi opo No?” Tanya saya saat dia merogoh-rogoh kantong plastiknya (itu apaan No?)
“iki ki isine senter,” (ini senter)
“lha nggo apa tha senter?” (senter buat apa?)
“nggo jaga-jaga nek ana maling,” sambil mengeluarkan sebuah korek yang ada sendernya (buat jaga-jaga kalau ada maling)
“emange ono maling po?” (emangnya ada maling?)
“he’eh,” (iya)
“Oh, apa kowe nek balik nganggo senter ngono?” (o, kalau kamu pulang, kamu pake senter gitu?)
“iya,” (iya)
“trus nek nang ndalan mbok uripke ngono,” (trus di jalan dihidupin?)
“he’eh, mlaku dewekan,” saya menangkap sebuah mata yang sedih saat dia mengucapkan kata ‘sendirian’ (iya, jalan sendirian)

Kalau dihitung-hitung, jarak tempat dia bekerja sampai ke daerah rumahnya ada sekitar 2 km, mungkin lebih. Ternyata Harno jalan sendiri ditemani senter kecilnya setiap malam.

 

***maap, karena saya nggak punya foto angkringan khalibex jadi terpaksa pakai foto angkringan Lik Man Jogja, yah hanya biar dapet “feel”nya saja (next posting saya akan ceritakan Angkringan Lik Man Jogja, tunggu saja).***

“koe nduwe pacar ra No?” iseng-iseng saya bertanya tentang hal percintaan (kamu punya pacar nggak No?)
“he’eh?” katanya singkat (iya)
“jenenge sapa?” saya mulai tertarik sembari menulis di buku (namanya siapa?)
“jenenge Misdi,” jawabnya, sekilas senyum tampak di wajahnya (namanya Misdi)
“Mis Di?” sebenarnya saya kurang yakin dengan nama ini, selain nada bicaranya yang agak sulit dimengerti, saya juga takut kalau saya bertanya terus malah membuat dia menjadi bete (Misdi?)
“iya, omahe kalisari rana,” tambahnya (iya, rumahnya Kalisari kesana)
“ayu rak?” (cantik nggak?)
“ora,” jawabnya polos sambil garuk-garuk kaki (enggak)
“wonge apikan tha?” (orangnya baik kan?)
“ho’oh, mijeti, trus, sayang,” dia menjawab agak terbata-bata sambil memeragakan pijatan di pundaknya. Sayapun kaget dengan kata sayang yang diucapkannya. (iya, mijitin, trus, orangnya sayang)
“lha kowe yo sayang ra?” Tanya saya lagi (kamu juga sayang?)
“iya,” jawabnya singkat (iya)
“lha arep ngantenan po?” (apa mau nikahan?)
“he’eh, sesuk,” wow, semakin menarik nih (iya, besok)

Saya melanjutkan percakapan yang semakin memanas ini. Lalu saya menanyakan kapan dia menikah. Tapi saya jadi bingung karena dia berubah 180 derajat. Ketika saya menanyakan dimana pacarnya saat itu, malah dia menjawap tidak punya. Lha…

“ora, aku ora nduwe kok,” tentu saja jawaban ini membuat saya bingung (nggak, aku nggak punya kok)
“lha mau jarene nduwe,” taya saya heran (tadi katanya punya?)
“ora,” jawabnya singkat (nggak)
“lha jarene meh ngantenan?” (katanya mau menikah?)
“ora, aku ora nduwe, aku ora ngantenan,” sekali lagi saya menangkap raut wajah tanpa ekspresi (nggak, aku nggak punya, aku nggak pengen menikah)
“aku dhewekan,” imbuhnya, mungkinkah dia kesepian? (aku sendirian)
“lha pengin ngantenan gak?” saya mencoba bertanya sekali lagi (lha kamu pengen menikah?)
“ora, aku dhewekan,” jawabnya kemudian (nggak, aku sendirian)

Saya mengalihkan pembicaraan sambil menyeruput kopi saya yang tinggal separuh gelas. Saya tidak ingin menghilangkan kecerianya dulu. Karena sepertinya Harno mulai bosan ditanya mengenai hal tersebut.

“kowe pengen dadi apa No?” Tanya saya (kamu pengen jadi apa No)
“hah?” ucapnya polos (apa?)
“cita-citamu dadi apa?” saya coba bertanya dengan lebih jelas (cita-citamu jadi apa?)
“dadi raksasa!” katanya dengan wajah seperti anak-anak (jadi raksasa!)
“weh! Lha warnane apa?” tentu saja saya kaget (wew, warnanya apa?)
“ijo,” ujarnya (hijau)
“raksasa ijo sangar tha? Lha kok pengen dadi raksasa ngapa?” (raksasa hijau hebat ya? Kok pengen jadi raksasa kenapa?))
“yo nek berantakan, uwong-uwong, kan mberesi,” katanya putus-putus (ya kalau berantakan, orang-orang, kan di rapikan)
“oh, ben iso mberesi ngono po?” (o biar bias mberesi gitu?)
“he’eh,” (iya)
“oh ya apik nek ngono,” kata saya sembari menghabiskan kopi saya (ya bagus deh kalau gitu)

Ternyata waktu saya sudah habis, seseorang sudah menunggu untuk dijemput. Setelah membayar, saya mengajak harno untuk tos. Sekilas saya melihat tato yang bertuliskan nama serta alamatnya di lengan kanannya.

Saya mencoba mengambil pelajaran dari percakapan tersebut, bahwa tidak semestinya kita merendahkan orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental. Karena bagaimanapun, dia juga manusia seperti kita, meskipun saya tidak pernah merasakan menjadi dia, tapi Harno dan orang-orang seperti dia juga memiliki perasaan. Sebaiknya kita bersyukur dan mau berbagi dengan sesama. Ya nggak…??

Saya lalu pergi menuju ke rumah teman dengan sekilas senyum. Ah, Semarang.(ez) yang-ini.blogspot.com

Categories: Jalan-Jalan, Kelontong
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: