Home > Jalan-Jalan > Becak Becak Cepat Bawa Saya

Becak Becak Cepat Bawa Saya

foto: kfsemarang

Kaki-kaki tua abang penarik becak masih terus mengayuh pedal di belakang kami. Sesekali melambat saat jalanan menanjak atau tidak rata.

Mampukah becak bertahan disaat perkembangan zaman yang semakin modern? Ataukah nantinya akan teronggok di museum sebagai barang antik saja?
Becak dan Kenangan
Ketika saya berkunjung ke kota Kediri di Jawa Timur, beberapa kali saya naik angkutan tradisional yang bernama becak. Atapnya yang terhitung ‘ngirit’ ini dibuka, menjadikan leluasa memandangi kota di sore hari. Apalagi angin sepoi memberi suasana tersendiri saat melintasi kali Brantas.

Meskipun sekarang lebih sering menggunakan kendaraan pribadi, tapi terkadang becak menjadi pilihan untuk sesekali berkeliling kota. Kenangan dan romantisme yang diberikan ternyata selalu terbayang sampai sekarang.

Warna-warni Becak
Rupanya becak-becak yang tersebar di seluruh negeri memikili khas masing-masing. seperti contoh, becak di sebagian besar Jawa Timur memiliki body yang relatif lebih kecil. atapnya juga tergolong sederhana bila dibandingkan becak di Jawa Tengah. coba lihat saja foto di bawah ini adalah becak-becak Jawa Timuran.

foto: matanews


Becak Semarang bodynya lebih ‘semok’ dengan model membulat dan seringkali saya melihat atapnya dibuka/ diturunkan. Ibarat kata, VW Beetle versi human engine. Konstrusksi becak ini rupanya lebih ‘njengat’ jadi agak sedikit aneh sewaktu menaikinya. Desain klasik juga bisa kita dapati di daerah Yogyakarta dan Solo.

foto: world66


Selanjutnya ada becak Banyumas yang sedikit lebih kecil, dengan kesan modern yang menyertainya. Jika hujan turun, gulungan lembar plastik akan diturunkan untuk melindungi kita dari air hujan. Bumper rodanya lebih kecil tidak menutupi roda atasnya. Becak seperti ini juga terdapat di sebagian jawa barat. Kebetulan saya dapat foto yang sedang atraksi tuh.

Foto: JP/Agus Maryono


Tak hanya di Indonesia, ternyata becak juga ada di negara-negara Asia lainnya dan bahkan Eropa. Di German misalnya, becak didesain seperti layaknya mobil walaupun sumber tenaganya tetaplah manusia. Lihat saja foto dibawah, orang-orang bule juga naik becak atau yang mereka sebut velotaxi/velocab.

foto: msnbc.msn

Lukisan dan Kalimat Nylekit
Yang sering membiat saya tertarik adalah lukisan-lukisan cat di belakan becak. Kadang disertai sepatah kata yang membuat kita tersenyum geli, atau jika mau berpikir ternyata kata-kata di becak mengandung makna yang dalam. Seperti halnya lukisan-lukisan di truk-truk, abang penarik becak juga tak mau kalah dengan menuliskan mottonya. Biasanya dibarengi dengan lukisan pemandangan alam, lalu mereka menyediakan ‘space’ untuk kalimat favorit mereka, seperti “Kapan Ayah Pulang?” “Pulang dimarahi, tidak pulang dikangeni,” “Doa Ibu,” atau yang lebih lucu seperti “Yang naik boleh jadi selingkuhan saya.”

foto: lang-88


Becak Versus Mesin
Berat memang perjuangan para abang becak ini, tak sedikit mereka adalah lelaki-lelaki tua. Apalagi harus berjibaku dengan modernisasi kota. Seperti yang kita tahu, sekarang sudah banyak angkutan umum yang tarifnya lebih murah, busway, mikrolet, bus kota, ojek, bajaj, atau yang lebih nyaman seperti taksi. Di kota-kota besar malah becak sudah dilarang beroperasi karena dianggap menyebabkan kemacetan.

Sekarang becak lebih sering digunakan untuk jarak yang tidak terlalu jauh atau sebagai becak wisata, seperti becak-becak di sepanjang jalan Malioboro. Beberapa pedagang juga masih menggunakan angkutan klasik ini untuk mengangkut sayur-mayur dagangannya ke pasar-pasar tradisional. Karena becak menggunakan tenaga manusia, biasanya becak lebih banyak didapati di daerah yang datar.

Para abang becak ini rupanya tidak mau kalah dengan perubahan zaman. Ada yang mengganti sumber tenaga menggunakan motor yang sudah dimodifikasi. Belum lagi bagian penumpangnya yang semakin nyaman dengan piranti audio-video yang tak kalah dengan mobil-mobil pribadi.

foto: taufikjalanjalan


Naik Becak Bonus Jadi Raja
Cobalah sesekali luangkan waktu untuk menjajal becak. Berkeliling kawasan Kota Lama di Semarang atau berkeliling Malioboro dan sekitarnya jika sedang di Jogja. Untuk yang tidak suka keramaian, maka coba saja berkeliling desa sambil melihat hamparan sawah dan pegunungan di sore hari.

Santai dan terkadang ada perasaan seperti menjadi raja saat menaiki becak. Tapi sebaiknya jangan tumpangi becak lebih dari dua orang dewasa, bisa-bisa becak ‘njomplang’ ke depan dan abang becaknya tiba-tiba terlempar ke depan kita. Aduh, sakit!(ez)
yang-ini.blogspot.com

***boleh copas tapi sertakan sumber dan link back ke blog ini juga ya***

Categories: Jalan-Jalan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: