Home > Kelontong > Temanku Seorang Pelukis

Temanku Seorang Pelukis

Senin menjelang tengah malam, setelah kota Semarang diguyur hujan lebat, saya berbincang dengan seorang pelukis yang tergolong sukses di usia mudanya. Karyanya telah berapresiasi diberbagai belahan dunia, seperti Bangkok, Dublin dan beberapa negara lainnya.
Perbincangan di Beranda

Tak terasa kopi hitam saya sudah mulai dingin, tapi justru obrolan kami sedang hangat-hangatnya. Saya memang awam di dunia seni rupa, lain halnya dengan sahabat saya semenjak SMA ini. Saya banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada calon ayah beranak satu ini, sambil sesekali menyeruput kopi yang terletak berdekatan dengan kanvas berukuran besar.

Melukis Adalah Proses
Hery Purnomo namanya, memutuskan untuk menggeluti bidang Seni Rupa khususnya melukis. Menurutnya, melukis itu adalah proses seperti halnya kehidupan ini. Mulai dari tidak tahu, minat, belajar, idealisme, kegagalan, keuletan dan keteguhan hati serta kesuksesan. Namun semua itu adalah proses hingga kita mendapati apa tujuan kita.
Pada awalnya, jika saya bertanya sesuatu maka dia menjawab seenaknya saja, sekenanya saja. Tapi dalam beberapa hal, dia terlihat sangat serius menjelaskannya. Dia juga menceritakan bagaimana rasa senangnya saat dia mulai menggambar sewaktu kecil. Dari situlah keinginannya untuk menjadi seorang seniman tumbuh.

Umur Belasan
Sewaktu kami sama-sama bersekolah di SMA N 9 Semarang, saya sempat satu kelas dengan dia. Penampilannya sederhana saja, terkesan cupu, agak pendiam namun menarik dan unik. Jangankan punya pacar, berdekatan dengan cewek cantik saja dia gemetar. Namun bagi kami yang dulu sering menertawakannya harus gigit jari, karena ternyata dialah yang paling dulu menikah dan berumah tangga dengan seorang perempuan cantik asal Pekalongan.

Suatu hari sepulang sekolah saya sengaja ingin main ke rumahnya untuk berguru gitar kepadanya. Setelah bel berbunyi, dia mengajak saya untuk tidak langsung pulang dulu melainkan menunggu beberapa saat sampai sekolahan sepi. Setelah menunggu lama ternyata motor tuanya susah dihidupkan, sehingga saya harus ikut membantu mengengkel starternya puluhan kali sampai berkeringat dibuatnya. Sekitar setengah jam kemudian, baru motor itu hidup diiringi asap putih tebal dari knalpotnya. Sesampainya dirumah, dia berkata, “itulah mengapa saya selalu menunggu sekolahan sepi baru pulang, soalnya saya malu motor saya sulit distarter,” katanya dengan lugu.

Lain Dulu Lain Sekarang
Lain halnya dengan dulu, sekarang teman saya ini nampak matang dan mantap menjalani kehidupannya sebagai seniman, apalagi jika melihat kesuksesan dibalik kegagalan studinya. Kendati begitu, disaat kuliah Seni Rupanya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Semarang ini, kiprahnya cukup membanggakan. Sebagai contoh, karyanya pernah mendapat penghargaan dari event bergengsi fakultas. Belum lagi prestasi-prestasinya di luar maupun di dalam kampus.

Tidak hanya sampai disitu, dia melanjutkan untuk mengikuti berbagai lomba dan memenangkannya. Lalu mengikuti pameran-pameran yang diadakan di Galeri Semarang, berlanjut ke luar kota seperti di Jakarta. Hingga saatnya seseorang membawa karyanya go-international.

Nasi Sudah Menjadi Bubur Ayam Yang Lezat
Menurut pria yang juga hobi bermusik ini, yang terpenting dari melukis itu adalah kepuasan. Rasa bahagia sewaktu menjalani proses melukis hingga menikmatinya adalah nilai tersendiri. “Kalaupun ada orang yang berminat menukarnya dengan uang ya saya mau-mau saja,” katanya sembari terkekeh.

Lantas, saya bertanya kepadanya, kenapa ada lukisan yang ‘jelek’ dan menurut saya seperti benang kusut malahan dianggap bagus dan bernilai tinggi? Dia menjawab, bagus-tidaknya sebuah karya seni sebenarnya relatif, namun yang tidak kalah penting adalah pesan yang disampaikannya, juga imajinasi serta berbagai aspek dalam melukis lainnya.

Sambil terus menguaskan cat di kanvasnya, dia mengatakan bahwa dia mengidolakan Leonardo Da Vinci. Menurutnya, pelukis legendaris itu bukan hanya seorang pelukis, namun juga seorang ilmuwan yang mampu bercerita tentang kehidupan melalui karya-karyanya.
Tips Menjadi Pelukis
Lalu bagaimanakah cara agar bisa menjadi pelukis seperti dia? Dia ternyata mau membagi tips kepada saya, yang penting kita punya niat dulu saja. Kita bisa memulai dari melihat, mencoba, berlatih, mengekspresikan imajinasi, dan jika tidak tahu jangan malu untuk bertanya. Mengikuti lomba semenjak dini juga bisa memicu semangat untuk belajar. Selain itu, jangan lupa untuk bergaul dengan sesama seniman, bertukar pikiran dan informasi seputar dunia seni serta mengikuti berbagai pameran.

Sekilas Senyum
Tak terasa ayam jantan sudah hampir berkokok. Kopi dingin kamipun hanya tersisa ampasnya. Sembari berbaring, saya berkata kepada diri saya sendiri, meskipun saya tidak ingin jadi pelukis seperti dia, tapi semangatnya bisa saya tiru. Sayapun mengawali tidur pulas saya malam itu dengan sekilas senyum.

Untuk para pembaca yang ingin berkenalan sendiri dengan Hery Purnomo, bisa langsung berkenalan lewat gallery iniatau ini atau via facebook di sini. atau atau melalui saya juga boleh.
(ez) yang-ini.blogspot.com

Categories: Kelontong
  1. October 15, 2010 at 3:56 pm

    ji…..sek……..!!!!!!

  2. October 15, 2010 at 5:01 pm

    Trimakasih untuk kunjungannya..
    sering-sering yaa….
    Bolehkah saya menulis “Temanku Seorang Businessman ??

  3. October 16, 2010 at 6:31 am

    lha isih mangan krupuk ngombe banyu putih pora?

    hoi di goleki cik mbun

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: